Sabtu, 23 Maret 2013

TAHAP-TAHAP PERENCANAAN AUDIT


Tugas minggu ini untuk mata kuliah Auditing II adalah menjelaskan bagaimana tahap-tahap dalam perencanaan auditing.

Tugas ini juga merupakan tugas kelompok, anggota kelompok ini yaitu
Reni Setiyani                   (C1C010034)
Linda Kusuma W            (C1C010042)
Indri Zulis S                     (C1C010064)
Cynthya Rhismalia A      (C1C010070)
Dita Septi P                     (C1C010084)

Berikut ini merupakan tahap-tahap yang harus dilakukan seorang auditor dalam merencanakan proses audit:
 

  1. Memahami Bisnis dan Industri Klien

Auditor harus memiliki pengetahuan tentang bisnis kliennya agar memahami kejadian, transakasi, dan praktik yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap laporan keuangan.

Untuk dapat memperoleh pemahaman bisnis dan industry klien, auditor dapat memperoleh informasi dari:
a.   Pengalaman sebelumnya tentang Entitas dan Industrinya
Dengan cara mereview kertas kerja audit tahun-tahun sebelumnya, auditor dapat mengingat kembali mengenai kebijakan-kebijakan klien, organisasi, dan pengendalan intern.
b.   Diskusi dengan Orang dalam Entitas
Narasumber yang dapat diharapkan oleh auditor untuk memperoleh informasi tentang perusahaan klien diantaranya adalah Komite audit, direktur, dan personel operasi.
c.    Diskusi dengan Personel dari funggsi Audit Intern dan Review terhadap Laporan Auditor Intern
Auditor intern merupakan sumber informasi untuk memahami kekuatan dan kelemahan pengendalian intern yang diterapkan dalam organisasi entitas dalam menjaga keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Review terhadap laporan auditor intern merupakan cara yang efektif untuk memahami pengendalian intern yang diberlakukan dalam organisasi entitas.
d. Diskusi dengan Auditor Lain dan dengan Penasihat Hukum atau Penasihat Lain yang telah Memberikan Jasa kepada Entitas atau dalam Industri.
Auditor dapat berkomunikasi dengan auditor lain yang ditahun sebelumya telah melakukan audit atas laporan keuangan entitas untuk memperoleh pemahaman untuk bisnis entitas. Auditor juga dapat berkomunikasi dengan penasihat hukum atau penasihat lain untuk memperoleh informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam bisnisnya.
e.         Publikasi yang Berkaitan dengan Industri
Ini diperlukan bagi auditor agar ia dapat melaksanakan audit dengan baik. Pengetahuan mengenai industri yang menjadi tempat usaha klien dapat diperoleh dengan berbagai cara meminta keterangan dari klien, berlangganan majalah yang dikeluarkan oleh organisasi industri yang bersangkutan, dan aktif berpartisipasi dalam perkumpulan berbagai industri atau program-program latihan yangdiselenggarakan oleh berbagi industri.
f.          Kunjungan Ke Tempat atau Fasilitas Pabrik Entitas
Auditor dapat memperoleh pengetahuan mengenai tata letak pabrik, proses produksi, produk-produk utama perusahaan, dan penjagaan fisik terhadap aktiva perusahaan.
g.   Perundangan dan Peraturan yang secara Signifikan Berdampak terhadap Entitas
Dalam perencanaan auditnya, auditor perlu mempertimbangan dampak berbagai peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah yang berdampak terhadap bisnis klien. Peraturan pemerintah yang dapat berdampak bagi bisnis klien diantaranya adalah peraturan ekspor, peraturan kredit, peraturan penanaman modal, dan peraturan perpajakan.
h.   Dokumen yang Dihasilkan oleh Entitas
Berbagai dokumen yang dihasilkan oleh entitas sebagai sumber informasi untuk memahami bisnis entitas:
a.       bahan yang dikirim kepada pemegang saham dan diserahkan kepada badan pengatur
b.       buku-buku promosi
c.       laporan keuangan dan laporan tahunan tahun sebelumnya
d.      anggaran
e.       laporan manajemen intern

                2. Melaksanakan Prosedur Analitik 
Prosedur analitik perlu dilakukan oleh auditor agar auditor dapat meningkatkan pemahamannya atas usaha klien.

Tahap-tahap Prosedur Analitik
 a.    Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
Auditor biasanya melaksanakan prosedur analitik dengan menggunakan data agregasi (gabungan, kumpulan), data perusahaan secara keseluruhan yang didasarkan pada data gabungan sampai dengan bulan dilakukannya prosedur analitik atau pada data proyeksi tahunan.
b.   Mengembangkan Harapan
Auditor perlu mengembangkan harapan sebagai dasar untuk membandingkan perhitungan dan ratio yang dibuat dalam prosedur anallitik.
c.    Melaksanakan Perhitungan/perbandingan.
Auditor mengumpulkan data yang akan dipakai dalam penghitungan perbedaan jumlah absolute atau presentase sekarang dibandingkan dengan jumlah atau presentase tahun yang lalu.
d.   Menganalisis Data dan Mengidentifikasi Perbedaan Signifikan.
Data yang telah dikumpulkan kemudian dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan olehauditor untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan yang terjadi.
e.    Menyelidiki Perbedaan Signifikan yang tidak Terduga dan MengevaluasiPerbedaan Signifikan.
f.    Menentukan Dampak Hasil Prosedur Analitik terhadap PerencanaanAudit.
Perbedaan signifikan yang tidak terduga biasanya dipandang oleh auditor sebagai petunjuk meningkatnya risiko salah saji dalam akun atau berbagai akun yang bersangkutan dengan perhitungan dan perbandingan. 

3.      Mempertimbangkan Tingkat Materialitas Awal
Materialitas awal pada tingkat laporan perlu ditetapkan oleh auditor karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan. 

 4.      Mempertimbangkan Risiko Bawaan
Auditor merumuskan pendapatnya atas laporan keuangan secara keseluruhan berdasarkan bukti audit yang diperoleh melalui verifikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi.

  1. 5.      Mempertimbangkan Berbagai Faktor yang Berpengaruh terhadap Saldo Awal, jika Perikatan Audit Merupakan Audit tahun Pertama.
Auditor harus memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk meyakini bahwa.
a.       Saldo awal tidak mengandung salah saji yang mepunyai dampak material terhadap laporan keuangan tahun berjalan.
b.      Saldo penutup tahun sebelumnya telah ditransfer dengan benar ke tahun yang berjalan atutelah dinyatakan kembali, jika hal itu semestinya dilakukan.
c.       Kebijakan akuntasi yang semestinya telah diterapkan secara konsisten

  1. 6.      Mengembangkan strategi Audit awal terhadap Asersi Signifikan
Karena keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan komponen risiko audit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi. Ada dua strategi audit awal yang dapat dipilih oleh auditor:
a.       primarily substantive approach
b.      lover assessed level of control risk approach

  1. 7.      Me-review Informasi yang berhubungan dengan Kewajiban-kewajiban Legal klien.
Auditor perlu memahami kewajiban-kewajiban legal dalam perjanjian-perjanjian yang menyangkut klien. Informasi tersebut tercantum dalam dokumen-dokumen berikut ini:
1.      Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Copy akte pendirian dan anggaran rumah tangga yang diperoleh auditor dalam audit yang pertama disimpan dalam arsip permanen untuk kepentingan audit selanjutnya.
2.      Dalam audit berikutnya, auditor harus memperbaharui informasi yang terdapat dalam akte pendirian dananggaran rumah tangga tersebut dengan menambah copy perubahan-perubahan terhadap dokumen-dokumen tersebut dalam arssip permanen.
Perjanjian Persekutuan
3.       Notulen Rapat Direksi dan Pemegang Saham.

Selasa, 19 Maret 2013

Review Jurnal Audit

Kuliah pertama untuk mata kuliah Auditing II, kami disuruh membentuk kelompok beranggotakan lima orang dan mereview jurnal audit.
Saya dan anggota kelompok saya (Reni Setiyani; Linda Kusuma W; Indri Zulis S; dan Cynthya Rhismalia A) akan membahas jurnal audit mengenai "Audit Delay".

Inilah tugas pertama review jurnal audit - Audit Delay.

Sabtu, 16 Maret 2013

10 STANDAR AUDIT



Standar auditing berkaitan dengan kriteria atau pun ukuran mutu kinerja audit,dan juga berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dengan menggunakan prosedur yang ada. standar audit ini terdiri dari 10 kelompokyang dikelompokkan ke dalam 3 bagian, diantaranya Standar Umum, Standar Pekerja Lapangan, dan Standar Pelaporan. 

Standar Umum

Standar umum ini bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya. Standar umum ini mencangkup tiga bagian yaitu :
1. Audit harus dilaksanakn oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang  memadai sebagai seorang auditor
Seorang auditor harus memiliki pendidikan yang memadai serta memiliki pengalaman yang luas dalam   bidang audit. Sehingga auditor mampu menyelesaikan permasalah yang kelak akan dihadapi dengan baik

2. Dalam semua hal yang berkaitan dengan perikatan, auditor harus senantiasa menjaga sikap mental independen
Standar ini menekankan seorang auditor agar bersikap independen. Indepenen merupakan sikap mental yang bebas, dapat diartikan sebagai kejujuran yang tidak memihak siapapun dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.
Sehingga, seoran auditor diharapkan tidak mudah terpengaruh klien atau pihak lain dalam melaksanakan audit dan juga dalam melaporkan temuan-temuannya atau memberikan opininya.

3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama
Standar ini menekanakan tanggung jawab setiap profesional yang bekerja dalam organisasi auditor. Seorang auditor harus memiliki keterampilan yang dimiliki oleh auditor pada umunya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan cermat dan seksama. Standar ini mengharuskan seorang auditor  dapat berlaku jujur dan tidak ceroboh dalam melakukan pekerjaannya

Standar Pekerjaan Lapangan
Untuk Standar Pekerjaan Lapangan terdiri dari tiga standar:
1. Pekerjaan harus direncanakan dengan matang dan apabila digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya
Audit harus direncanakan dengan baik agar dapat berjalan dengan efektif dan juga efisien.
Supervisi dalam pemilihan staff juga harus dilakukan dengan semestinya, karena seringkali pelaksanaan program audit dilaksanakan oleh para asisten staff dengan pengalaman dan keamapuan yang terbatas.
Apabila hal itu terjadi, walaupun pelaksanaan audit telah direncanakan dengan baik, tetapi pelaksanaan audit tidak akan efektif dan efisien.

2. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh agar dapat merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan
Pemahanan atas struktur pengendalian intern klien merupakan factor yang penting dalam melaksanakan audit. Apabila pengendalian intern yang dimiliki baik maka dapat melindungi asset klien dan juga mampu menghasilkan informasi keuangan yang dapat diandalkan.
Oleh karena itu, seorang auditor harus memahami mengenai system pengendalian intern kliennya dengan baik sehingga dapat merencanakan suatu audit yang efektif dan efisien.

3. Bukti audit kompeten yang cukup diperoleh melalui inspeksi, observasi, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
Sebagian besar pekerjaan auditor adalah memberikan pendapat atau opini atas laporan keuangan. Bukti audit sangatlah bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan audit. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti lain yang menguatkan kesimpulan, sluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.

Standar Pelaporan

1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Standar ini mengharuskan auditor untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup konversi, aturan dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi yang berlaku umum di wilayah dan pada waktu tertentu.

2.  Laporan auditor harus menunjukkan keadaan di mana prinsip akuntansi tidak diterapkan secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan prinsip akuntansi yang diterapkan pada periode sebelumnya
Standar ini menuntut auditor untuk memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan. Kurangnya konsistensi penerapan prinsip akuntansi dapat menyebabkan kurangnya daya banding laporan keuangan. Standar ini dirancang sebagai daya banding laporan keuangan dari satu periode ke periode yang lain.

3. Pengungkapan informative dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informative yang memadai atas hal-hal material, seperti bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan serta catatan atas laporan keuanga.
Standar ini berkaitan dengan kecukupan catatan atas laporan keuangan dalam bentuk pengungkapan lainnya. Standar ini hanya berpengaruh pada laporan auditor,apabila pengungkapan managemen tidak mencukupi.
  
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara menyeluruh, atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
Tujuan standar pelaporan ini adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan.